JAKARTA – Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) bersama Panitia Kongres VII PIKI melakukan kunjungan silaturahmi ke Grha Oikumene, kantor Majelis Pekerja Harian Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI), Jl. Salemba Raya 10, Jakarta Pusat.
Kedatangan rombongan yang dipimpin oleh Ketua Umum DPP PIKI, Badikenita Putri Sitepu, disambut langsung oleh Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty. Turut hadir dalam pertemuan tersebut Sekretaris Jenderal Audy WMR Wuisang, Ketua Panitia Kongres VII Benyamin Patondok, Ketua Bidang Informasi dan Komunikasi Christine Chelsea Chan, serta jajaran pengurus DPP PIKI lainnya.
Ketua Panitia Kongres VII PIKI, Benyamin Patondok, menyampaikan bahwa agenda utama kunjungan ini adalah melaporkan persiapan Kongres VII PIKI yang dijadwalkan berlangsung di Jakarta pada 30 April hingga 2 Mei 2026. Ia mengungkapkan harapan besar agar Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, berkenan membuka secara resmi forum tertinggi organisasi tersebut.
“Kami sangat berharap Bapak Presiden berkenan membuka Kongres PIKI. Surat permohonan sudah kami sampaikan dan kami menantikan jawaban positif. Sebagai anak bangsa, kami ingin kontribusi pemikiran PIKI disambut baik oleh pemerintah,” ujar Benyamin.
Ia mengingatkan bahwa pada tahun 1993, Kongres PIKI pernah dibuka oleh Presiden Soeharto. Momentum Kongres VII tahun 2026 ini diharapkan menjadi tonggak strategis bagi kaum inteligensia Kristen untuk berkontribusi bagi gereja, perguruan tinggi, serta kemajuan bangsa.
Benyamin menambahkan bahwa PIKI merupakan wadah berkumpulnya tokoh-tokoh intelektual, akademisi, birokrat, hingga pengusaha Kristen. Melalui rangkaian seminar dan simposium di kongres nanti, PIKI berkomitmen memberikan masukan konkret kepada pemerintah.
“Tokoh-tokoh Kristen ikut berjuang demi kemerdekaan bangsa ini. Kita tidak boleh hanya berada di pinggiran, tetapi harus aktif berjuang. Banyak intelektual kita yang butuh kesempatan untuk mengaktualisasikan pemikirannya demi kebaikan negara,” imbuhnya.
Senada dengan itu, Ketua Umum DPP PIKI Badikenita Putri Sitepu menekankan pentingnya dukungan PGI dalam menyuarakan urgensi kongres ini, terutama dalam penguatan nilai kebhinekaan. Ia menegaskan meski PIKI bukan bagian dari pemerintah, posisi PIKI sebagai lembaga keumatan serupa dengan PGI yang berfokus pada penguatan kapasitas intelektual.
Kongres yang mengusung tema “Tegakkanlah Keadilan” (Amos 5:15) ini rencananya akan dihadiri oleh perwakilan dari 29 DPD dan 87 DPC PIKI dari seluruh Indonesia.
Ketua Umum PGI, Pdt. Jacklevyn Frits Manuputty, menyambut baik rencana tersebut. Ia mengakui peran besar tokoh Kristen sejak zaman penjajahan hingga reformasi tidak dapat dinafikan. Namun, ia memberikan catatan kritis mengenai mulai menyusutnya representasi tokoh Kristen di ruang publik belakangan ini.
Pdt. Jacklevyn berharap Kongres PIKI mampu melahirkan gagasan besar yang relevan dengan kebutuhan negara saat ini. Ia juga memberikan pesan mendalam agar umat Kristen tidak merasa sebagai “tamu” di negeri sendiri.
“Jangan anggap diri kita seperti penghuni indekos di rumah besar bernama Indonesia. Orang yang merasa indekos biasanya hanya ribut soal hal-hal kecil seperti atap bocor. Kita harus sadar bahwa Indonesia adalah rumah besar kita bersama, sehingga kontribusi kita pun harus besar untuk bangsa ini,” tandasnya. (Ralian)

